Apakah Saya Berharga?

30/08/2011 10:57:06

Apakah saya benar-benar berharga di mata perusahaan? Mungkin adalah sebuah pertanyaan yang pernah terlintas di benak kita tatkala menerima tawaran pekerjaan dari suatu perusahaan. Sejumlah rasa antusias, penasaran sekaligus cemas bercampur aduk menerima tantangan-tantangan perusahaan, diikuti dengan sejumlah harapan-harapan untuk bisa menjalin cita-cita bersama.

Apakah saya benar-benar berharga di mata perusahaan? Mungkin juga adalah pertanyaan yang terlintas di benak kita tatkala rutinitas pekerjaan sudah berjalan dan tidak ada hal lain yang diminta oleh manajemen kecuali target yang harus tercapai dengan upaya yang se-efisien mungkin. Semboyan "Work Hard Play Hard" tiada lain diterjemahkan sebagai kerja keras dan setelah itu melampiaskan rasa capek bekerja. Tantangan untuk senantiasa tampil prima dan produktif diikuti dengan sikap yang mulai kritis terhadap apa yang harusnya diberikan dan diterima, antara diri sendiri dan perusahaan.

Apakah saya berharga di mata perusahaan? Adalah pertanyaan pamungkas bagi seseorang yang seakan-akan menemui jalan buntu, ketika hidupnya berujung pada tuntutan kerja keras tiada henti. "Work Hard Play Later" tampaknya lebih sesuai untuk menggambarkan kondisi dirinya, yang kemudian berujung pada "Apakah yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini?", "Apakah selama ini saya hanya menjadi "alat" bagi kebutuhan manajemen?". Pertanyaan yang berujung pada keputusan-keputusan sepihak untuk tampil kontraproduktif, keluar dari perusahaan dan mencari peluang lain yang seakan-akan lebih memenuhi kebutuhan dirinya.

Celakanya, ketika seseorang memilih pindah dari perusahaan yang menurutnya lebih cenderung mengeksploitasi dirinya, menemukan situasi perputaran siklus "Apakah saya benar-benar beharga di mata perusahaan" yang lebih sering, dan pada akhirnya menjadikannya bagaikan kutu loncat dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain. Pertanyaan "Apakah yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini" menjadi retorika atau wujud ironi dari "Setidaknya saya memperoleh uang yang cukup (untuk saat ini)".

Apabila demikian, kiranya apa yang keliru? Apakah salah kiranya seseorang memiliki suatu harapan atau cita-cita pribadi dan ia bergerak untuk membangun cita-citanya tersebut? Demikian pula apakah salah kiranya bilamana sebuah perusahaan mengharapkan setiap karyawannya tampil produktif? Apakah suatu hal yang salah untuk meminta setiap orang bekerja keras? Untuk siapakah kita sebenarnya bekerja keras? Apakah pangkat yang tinggi, gaji yang besar merupakan jawabannya?

Perkembangan bisnis modern dengan prinsip "keunggulan organisasi adalah cerminan kinerja bakat-bakat unggul di dalam organisasi" mengisyaratkan bahwa jabatan, gaji dan fasilitas bukanlah sebuah pengikat utama bagi orang-orang unggulan. Dengan pesatnya kehidupan sosial dan ekonomi baik pada skala internasional maupun nasional, setiap orang memiliki pilihan terhadap gaya hidupnya. Dengan gaya hidup yang dipilihnya, ia membangun sebuah gambaran atau tujuan hidup, yang kemudian akan menggerakan dirinya untuk mencapai tujuannya tersebut. Oleh karena itu, yang dicari oleh setiap individu pada akhirnya adalah sebuah aspirasi hidup atau juga dikenal dengan cita-cita.

Cita-cita manusia dapat bermakna luas, namun juga dapat bermakna sempit. Bilamana manusia menetapkan cita-cita dirinya pada apa yang terlihat olehnya, yaitu jabatan, gaji, fasilitas maka cita-citanya akan terbatas pada dimensi waktu dan produktivitas, yang semakin lama akan semakin terkikis seiring berjalannya irama dan tantangan kehidupan. Namun, apabila mencapai sebuah nilai, adalah apa yang diperjuangkan oleh manusia, maka masa depannya akan menjadi tidak berbatas. Setiap masalah akan dianggap sebagai kendala tapi tidak menurunkan semangat juangnya. Setiap kemajuan tidak akan menjadikannya berhenti berpuas diri. Hal ini disebabkan apa yang dikejarnya adalah sebuah aspirasi dari dalam dirinya, bukan luar dirinya.

Dengan demikian, sangatlah penting bagi sebuah organisasi untuk mampu mengenali aspirasi dari setiap individu yang berada di dalamnya. Menjadi lebih penting lagi, bagi organisasi untuk menangkap dan memadukan setiap aspirasi individu dengan nilai-nilai luhur di organisasi. Apabila demikian, maka arah kehidupan individu dan organisasi, menjadi tidak terbatas pada permasalahan dalam dimensi waktu dan produktivitas semata, namun akan tercipta suatu sinergi yang saling mengisi antara individu dan organisasi, dalam mencapai cita-cita yang sama.

Pada akhirnya, akan muncul dua pertanyaan yang saling mengisi, yaitu "Apakah saya benar-benar berharga di mata perusahaan", sebagai pertanyaan yang dibuktikan dengan integritas dan semangat karyawan membangun organisasi, serta "Apakah perusahaan benar-benar berharga di mata karyawannya?", sebagai pertanyaan yang dibuktikan dengan komitmen organisasi dalam meningkatkan kesejahteraan dan semangat kerja karyawannya, dan bersama-sama menyongsong masa depan yang lebih baik.



Bina Potensia Indonesia

Tags : Leadership

Artikel Selanjutnya : Bagaimana Mengembangkan Personal Characteristics Guna Meningkatkan Keunggulan Daya Saing Perusahaan?

Artikel Sebelumnya


Komentar




Anda tidak belajar tentang diri anda melalui kesuksesan. Anda belajar melalui kegagalan dan kesalahan.

EVENTS


ARTICLE'S TAGS

Inovasi Partnership Training SDM Assessment Leadership Management