Kebahagiaan

01/02/2013 22:18:52

Kebahagiaan, sebuah kata sederhana yang seringkali dipilih untuk mewakili perasaan seseorang apabila berhasil dalam meraih sesuatu, atau apabila ditanyakan tujuan akhir dari hidupnya. Cukup banyak seminar-seminar atau kegiatan pengembangan diri (personal development) yang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir (ultimate goal) bagi perjuangan manusia. Kebahagiaan menjadi sebuah kata yang dekat dengan pendengaran kita, meskipun belum tentu merasuk ke dalam jiwa dan pikiran secara utuh. Jadi, apakah sebenarnya kebahagiaan itu?

World Happiness Report (2012) menyatakan kebahagiaan diukur melalui pengalaman-pengalaman emosional yang bersifat individual, dan sulit dibandingkan antara satu dengan yang lain. Meskipun demikian, di tengah dinamika kehidupan modern, dunia membutuhkan parameter lain untuk membandingkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kebahagiaan menjadi pendekatan baru untuk melihat kemajuan suatu bangsa yang ditunjukkan melalui persepsi bahagia di lingkungan kerja, keluarga & sosial/masyarakat.

Hal yang menarik bahwa dari 156 negara yang menjadi sasaran survei, Indonesia termasuk kategori menengah (ranking 83). Apakah hal ini mengarah kepada sesuatu yang sudah baik? Survei pendahuluan yang dilakukan SWA (edisi 28, 2012) menunjukkan pemaknaan kebahagiaan tertinggi di masyarakat indonesia, baik di konteks keluarga, kerja maupun sosial, tampak memiliki satu kesamaan, yaitu merasa bahagia apabila berada di satu lingkungan yang nyaman, (keluarga, kerja maupun sosial). Pemaknaan tersebut memiliki persentase yang besar dibandingkan dengan pemaknaan lainnya seperti kebahagiaan adalah mencapai kepuasan prestasi, terpenuhinya kebutuhan pokok atau kesempatan berkontribusi. Apakah ini merupakan cerminan masyarakat kita yang cenderung kolektif? Tentu merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji lebih jauh.

Apakah pengkajian ini akan bermanfaat bagi kalangan industri dan organisasi? Dengan memahami manusia sebagai pribadi kompleks, dimana kemampuan dan kemauan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan, maka mencermati faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemauan manusia bekerja, tidak kalah pentingnya dengan meningkatkan keahlian/keterampilan kerja. Sebagai contoh, kita dapat memahami bahwa meskipun sebagian manusia memilih satu pekerjaan karena pengaruh imbalan yang menarik, namun bertahannya seseorang di pekerjaan tidak selalu disebabkan oleh faktor imbalan semata, melainkan ada aspek lain yang juga berpengaruh.



Bina Potensia Indonesia

Tags : Leadership

Artikel Selanjutnya : Consultant Gathering 2013

Artikel Sebelumnya


Komentar




Realitas selalu lebih konservatif daripada ideologi.

EVENTS


ARTICLE'S TAGS

Inovasi Partnership Training SDM Assessment Leadership Management