Good To Great Companies

13/02/2012 22:21:36

Jim Collins dalam bukunya Good to Great dengan jelas mengatakan bahwa dalam membangun perusahaan yang berlabel "Great Companies", para pemimpinnya pun harus menjadi Great Leader, bukan sekedar Good Leader. Memang ada beberapa kualitas yang harus dipenuhi untuk mencapai Great Companies, seperti beberapa contoh nama dan perusahaan yang dikategorikan oleh Jim Collins sukses dalam membangun Great Companies diantaranya : Darwin E. Smith (Kimberly-Clark), David Maxwell (Fannie Mae), Cook Walgreens (Walgreens). Mereka adalah contoh figur-figur yang berperan besar di balik suksesnya perusahaan-perusahaan ternama. Mereka adalah pribadi yang ambisius, berupaya menggapai kejayaan dengan menggabungkan konsep paradoks, maju terus pantang mundur, dengan kepribadian luhur dan profesionalisme tinggi. Para CEO ini juga menerapkan sistem suksesi kepemimpinan yang baik, yaitu dengan menempatkan para pemimpin yang memiliki kepribadian dan visi yang kurang lebih sama. Mereka pun tidak pernah menganggap faktor eksternal sebagai penyebab gagalnya sebuah langkah bisnis, melainkan lebih memilih mengkoreksi kesalahan yang ada pada sistem manajemen mereka sendiri.

Survei data melaporkan bahwa perusahaan berpredikat GREAT menancapkan prinsip WHO sebagai pijakan-nya. Ini berarti bahwa untuk menjalankan roda bisnis, anda harus temukan dulu orang-orang yang anda anggap layak. David Maxwell pun melakukan hal sama ketika Fannie Mae, perusahaan yang dia pimpin, menderita kerugian 1 juta US Dollar per harinya. Maxwell kemudian memanggil para top level manajemen di Fannie Mae, menanyakan kembali soal komitmen mereka terhadap Fannie Mae ke depan. Setelah itu, 14 dari 26 eksekutif Fannie Mae akhirnya hengkang dan digantikan oleh figur-figur yang jauh lebih cakap. Hasilnya, Fannie Mae akhirnya mampu meraup laba 4 juta US Dollar per hari jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Menciptakan Kultur Disiplin sebagai budaya yang betul-betul mengakar menjadi langkah selanjutnya untuk menggapai GREAT. Dalam hal ini, karyawan harus bisa termotivasi oleh dirinya sendiri. Bernard H. Semler, akuntan di Abbot menjadi perintis perilaku disiplin untuk department akunting. Kebijakan yang waktu itu tergolong radikal ini nyatanya mampu membawa Abbot menjadi jaya karena akhirnya diterapkan pada semua departemen.

Selanjutnya, terkait dengan peningkatan teknologi di dalam perusahaan. Tidak ada jaminan bahwa mesin yang canggih dan mutakhir akan membuat angka penjualan produk terdongkrak, namun yang penting adalah bagaimana menyelaraskan pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan masyarakat.

Para 'Good to Great' Companies selalu mengatakan bahwa prestasi luar biasa yang mereka raih bukanlah sebuah keajaiban yang harus dibesar-besarkan. Semua berjalan dengan normal dan natural. Darwin E. Smith, CEO Kimberly-Clark, raksasa produsen barang-barang berbahan dasar kertas mengatakan bahwa "Kami tidak bekerja siang malam. Perusahaan ini tumbuh dengan sendirinya. Ide-ide cemerlang pun tumbuh dengan apa adanya hingga buah dari keberhasilan itu akhirnya bisa kita nikmati."

Sama halnya dengan seorang great golfer, diantara banyak golfer yang ada, hanya beberapa saja yang berhasil menjadi great golfer. Bagaimana dengan perusahaan Anda saat ini? Sudahkah menjadi 'Great Companies' di Indonesia?


--Buku; Good to Great; Jim Collins--



Bina Potensia Indonesia

Tags : Management

Artikel Selanjutnya : Menjaga Eksistensi & Meningkatkan Kualitas Pelayanan Rumah Sakit Melalui Talent Management

Artikel Sebelumnya


Komentar




The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort, but where he stands at times of challenge and controversy.

EVENTS


ARTICLE'S TAGS

Inovasi Partnership Training SDM Assessment Leadership Management