Mengoptimalkan Nilai Analisa Beban Kerja Guna Menunjang Efektivitas SDM

19/11/2011 11:08:15

Tahun 2006, Society of Human Resource Management melakukan penelitian terhadap 427 organisasi untuk mengidentifikasi sejauh mana organisasi memandang penting keberadaan fungsi pengelolaan SDM di organisasi. Secara garis besar, lima kebutuhan tertinggi akan pengelolaan SDM dituangkan sebagai berikut:

  • Mengatasi masalah-masalah hubungan industrial (78%)
  • Melakukan kegiatan rekrutmen dan seleksi (76%)
  • Mengelola benefit karyawan
  • Mengelola (penilaian) kinerja karyawan (61%)
  • Mengelola penggajian dan insentif (57%)

Akan tetapi, sejauh manakah fungsi tersebut telah membantu perusahaan meningkatkan bisnisnya? Itu hal lain lagi.

Dr. Jac Fitz-enz (2009), berargumen bahwa di dunia modern ini, pengetahuan merupakan aset penting perusahaan dalam mengenali lingkungannya, mengarahkan bisnisnya dan pada akhirnya, memenangkan kompetisi. Akan tetapi, pengetahuan (knowledge) saja hanya benda mati yang terbatas pada tatanan sistem untuk menganalisa masalah dan mengambil keputusan. Adalah manusia sebagai "yang mengetahui" (knower), yang dapat mengangkat nilai pengetahuan untuk melihat celah-celah peluang dan perbaikan. Oleh karena itu, orientasi utama fungsi SDM menurut yang bersangkutan bukan hanya menjalankan kelima fungsi penting diatas.


Pertanyaan berikutnya adalah "Bagaimana cara kita mengetahui bahwa karyawan tersebut sudah optimal atau belum optimal bekerja?".

Sejak diperkenalkan di abad revolusi industri sampai dengan sekarang, analisa beban kerja sebagai pendekatan rekayasa industri, masih menjadi teknik yang efektif untuk mengidentifikasi apakah seseorang telah secara penuh memanfaatkan jam kerjanya untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan perusahaan (Maynard, 1971).

Pada tatanan strategis, perusahaan dapat memanfaatkan informasi analisa beban kerja menjadi informasi tingkat revenue per-karyawan atau disebut sebagai HCVA (Human Capital Value Added). Melalui HCVA, perusahaan dapat memahami seberapa besar perbandingan jam kerja rata-rata karyawan dengan tingkat revenue perusahaan. Pada tatanan operasional, informasi analisa beban kerja dipadukan dengan analisa kinerja (performance matrix) dapat memberikan masukan perbaikan terhadap penetapan target dan perincian pekerjaan dari setiap fungsi di perusahaan.

Singkat kata, meski pengelolaan SDM seringkali dianggap sulit untuk diukur secara matematis, pendekatan kuantitatif tetap dibutuhkan untuk membantu perusahaan mengambil keputusan terhadap arah pengembangan SDM yang sejalan dengan strategi bisnisnya. Analisa beban kerja dipadukan dengan pemahaman manajemen SDM dapat menjadi salah satu sumber informasi akurat untuk membantu manajemen menganalisa dan mengembangkan strategi SDM di perusahaan.




Bina Potensia Indonesia


Tags : Management

Artikel Selanjutnya : Customer Gathering Bina Potensia Indonesia

Artikel Sebelumnya


Komentar




Realitas selalu lebih konservatif daripada ideologi.

EVENTS


ARTICLE'S TAGS

Inovasi Partnership Training SDM Assessment Leadership Management