Human Capital

24/09/2013 22:51:46

1. Pengantar

Sejalan dengan perubahan tuntutan bisnis, fungsi manajemen sumber daya manusia mengalami perubahan dan penyempurnaan. Pada akhir abad 20, banyak organisasi telah mengembangkan sistem manajemen sumber daya manusia yang terintegrasi. Masing-masing sub sistem bekerja bersama secara harmonis untuk meningkatkan kinerja sumber daya manusia. Sebagai contoh, program-program staffing atau pengawakan pegawai, kompensasi atau remunerasi dan pelatihan dirancang untuk bersinergi saling mendukung sehingga mampu meningkatkan kinerja organisasi untuk mencapai sasaran strategisnya. Dengan semakin meningkatnya kompetisi yang terjadi sekarang ini, cara pengelolaan sumber daya manusia yang telah dilakukan selama ini menjadi kurang memadai lagi. Untuk mampu menjawab tuntutan kompetisi yang semakin ketat, manajemen sumber daya memerlukan orientasi baru. Manajemen sumber daya manusia perlu konsentrasi pada upaya membangun "Human Capital" dan "Knowledge Management" daripada hanya fokus pada mengupayakan kesesuaian antara job skill dengan strategi yang dipilih.


2. Apa Human Capital?

Bohlander, Snell, & Sherman (2001) mendifinisikan "Human capital is the knowledge, skills, and competencies of individuals that have economic value to organization". Pengertian tersebut menekankan pada 3 unsur yang membentuk human capital yaitu knowledge atau pengetahuan, skills atau keterampilan dan kompetensi. Namun tentunya bukan sekedar pengetahuan, keterampilan dan kompetensi, tetapi pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang mempunyai nilai ekonomi atau bermanfaat bagi organisasi. Ketiga unsur tesebut harus mempunyai relevansi dengan kebutuhan organisasi, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan kinerja organisasi.

Devenport (1999) memberikan batasan yang lebih lengkap. "Human capital comprises all the intangible assets that people bring to their jobs. It's the currency of work, the specie that workers trade for financial and other rewards. It consists of knowledge (command of a body of facts); skill (facility developed through practice, with the means of carrying out a task); talent (inborn facility for performing a task) and behavior (observable ways of acting) that contribute to accomplishing a task". Davenport melihat human capital sebagai intangible asset yang dimiliki pegawai dan bermanfaat dalam penyelesaian pekerjaan. Disamping knowledge dan skill, Devenport memasukkan dua unsur lainnya yaitu talent dan behavior sebagai unsur yang membentuk human capital.

Disamping dua definisi tersebut di atas, masih banyak batasan tentang human capital. Namun, kalau kita amati, semua definisi yang ada berpegang pada prinsip bahwa human capital fokus pada faktor-faktor knowledge, skill, kompetensi, dan karakteristik lainnya, yang dimiliki pegawai. Semua kemampuan tersebut (knowledge, skill, kompetensi, dan karakteristik lainnya) dikombinasikan dan dimanfaatkan dalam organisasi, sehingga tercipta suatu kemampuan organisasi yang dapat meningkatkan keunggulan bersaing.

Human capital dapat dibangun dengan cara mengubah pegawai melalui pengembangan keterampilan dan kapabilitas sehingga pegawai mampu bekerja dengan cara-cara baru.


3. Elemen Human Capital

Secara lebih detail, Dess and Pickens (1999) merinci Human Capital menjadi 7 elemen sebagai berikut:

  1. Motor skills : yaitu kemampuan memegang, menempatkan, memindahkan dan memanipulasi obyek dalam gerakan yang terkoordinasi.
  2. Information gathering (perception) skills : yaitu kemampuan untuk menangkap, memahami dan menginterpretasikan.
  3. Communication skills : yaitu kemampuan untuk mendengar, mengkomunikasikan dan membagi informasi dan pemikiran.
  4. Experience : yaitu keterampilan atau perspektif yang diperoleh dari pekerjaan yang pernah dilaksanakan sebelumnya.
  5. Knowledge : yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan diri, pekerjaan, organisasi dan lingkungan organisasi.
  6. Social skills : yaitu kemampuan untuk menjembatani, melakukan koordinasi dan bekerjasama secara produktif.
  7. Values, benefits, and attitudes : yaitu tata nilai yang dimiliki pegawai yang membentuk persepsi, penampilan dan sikap.


4. Human Capital versus KSAO

Dalam paradigma lama, pengelolaan sumber daya manusia menekankan pada upaya pengembangan yang terkait dengan KSAO (Knowledge, skills, abilities, and other characteristics). Human capital mirip tetapi tidak sama dengan pandangan tradisional KSAO tersebut diatas. Spector (1997) mendefinisikan KSAO sebagai berikut. Knowledge adalah apa yang seseorang ketahui atau pahami dan mempunyai keterkaitan dengan pekerjaan. Skill adalah apa yang seseorang mampu melaksanakan dalam pekerjaan. Ability (mental, physical, and psychomotor) adalah kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempelajari suatu keterampilan. Personal Characteristics lainnya mencakup sikap, keyakinan, karakteristik kepribadian, temperamen dan tata nilai.

Apabila dibandingkan dengan paradigma lama (KSAO), maka konsep human capital memiliki cakupan yang lebih luas, memiliki elemen yang lebih lengkap dan terintegrasi. (SG).-

Tags : Management

Artikel Selanjutnya : Peran Penting Pengelola SDM

Artikel Sebelumnya


Komentar




Orang yang sukses dalam hidup adalah orang yang melihat tujuannya dengan jelas dan menjurus kearahnya tanpa menyimpang.

EVENTS


ARTICLE'S TAGS

Inovasi Partnership Training SDM Assessment Leadership Management