Peran Penting Pengelola SDM

16/10/2013 22:47:23

Memasuki abad 21, persaingan dalam dunia usaha menjadi semakin ketat. Untuk dapat bertahan, perusahaan harus memiliki keunggulan bersaing. Tanpa itu, perusahaan akan menghadapi masalah dan pada akhirnya akan kalah dalam persaingan.

Banyak cara yang dapat dilakukan organisasi untuk menciptakan keunggulan bersaing. Namun pada dasarnya, kunci utama dari keunggulan bersaing adalah keunggulan sumber daya manusia (SDM). Perusahaan yang memiliki SDM yang unggul dan dikelola dengan baik akan menjadi perusahaan yang unggul dalam persaingan. Oleh karena itu, peran manajemen (pengelolaan) SDM menjadi sangat penting. Pengelola SDM dituntut untuk mampu menangkap sinyal-sinyal perubahan lingkungan bisnis yang dapat mempengaruhi kapabilitas dan kinerja perusahaan. Selanjutnya secara proaktif melakukan penyempurnaan (improvement) cara-cara pengelolaan SDM yang ada agar mampu mengantisipasi setiap perubahan lingkungan bisnis. Cara-cara pengelolaan SDM lama harus dievaluasi, dan pengelola SDM harus berpikir keras dan melakukan terobosan hingga menemukan cara pengelolaan SDM yang tepat.

Mark L. Lengnick-Hall dan Cyntia A. Lengnick-Hall dalam bukunya Human Resource Management in the Knowledge Economy, menyampaikan tiga hal penting yang dihadapi dan perlu dilakukan oleh pengelolan SDM yaitu:


1. Membangun Kapabilitas Strategis (Build Strategic Capability)

Organisasi harus mampu membangun kapabilitas strategis yaitu kapabilitas untuk menciptakan nilai (value) dari intangible assets perusahaan. Kita paham dengan tangible assets karena tangible assets dapat dilihat wujudnya dan mudah dikuantifisir, ada dalam pembukuan perusahaan, dan terdepresiasi sesuai dengan penggunaannya. Sedangkan intangible assets tidak dapat dilihat (invisible), sulit dikuantifisir, tidak dapat ditelusuri dari pembukuan dan memerlukan waktu yang lama untuk membangunnya. Sebagai contoh, keterampilan teknik, kerekatan pelanggan, branding dan business process. Tangible assets penting tapi belum cukup untuk membangun keunggulan bersaing, karena tangible assets dapat ditiru dan diperoleh melalui pasar. Intangible assets dapat merupakan pembeda yang dapat menjadikan perusahaan lebih sukses.

Bagaimana kita dapat mengidentifikasi bahwa perusahaan memiliki kapabilitas strategis?

Beberapa karakteristik kapabilitas strategis antara lain adalah keunggulan kompetensi bisnis, keunggulan dalam mengidentifikasi, memahami, dan mengarahkan apa yang terjadi di pasar (pergeseran tuntutan pelanggan), kemampuan secara cepat dan akurat untuk mentransfer skill diseluruh jajaran organisasi, kemampuan untuk meningkatkan produksi untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar dan memperluas jangkauan pasar, dan kemampuan untuk lebih cepat membangun peluang baru bagi organisasi dari yang diperlukan oleh pasar.

Kapabilitas strategis adalah kesiapan menghadapi tuntutan bisnis masa kini dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan bisnis masa yang akan datang. Kapabilitas strategis dapat dibangun melalui hubungan antara penciptaan, pertukaran dan pemanfaatan pengetahuan untuk membangun kapabilitas personal dan organisasi dalam rangka memberikan value kepada pelanggan.

Kapabilitas strategis yang terkait dengan SDM terdiri dari 3 komponen yaitu Human Capital, Structural Capital, dan Relationship Capital.

Human Capital adalah kompetensi yang dimiliki oleh SDM dan bermanfaat dalam menunjang keberhasilan pekerjaan, antara lain keterampilan teknis, kemampuan innovasi, dan kemampuan leadership.

Structural Capital adalah arsitektur organisasi dan proses manajerial yang menjadikan human capital mampu menciptakan market value. Sebagai contoh sistem informasi, budaya organisasi dan proses pengambilan keputusan.

Relationship Capital adalah hubungan interpersonal antara anggota organisasi (SDM) dan hubungan dengan supplier, pelanggan, dan perusahaan lain yang memiliki kerjasama. Contoh relationship capital antara lain kepercayaan (trust), loyalitas pelanggan (customer loyalty), dan kesepakatan yang berkaitan dengan lisensi.

Interaksi dari tiga komponen yaitu human capital, structural capital, dan relationship capital akan menciptakan value.

Pengelola SDM dapat meningkatkan kontribusinya kepada perusahaan dalam keunggulan bersaing dengan memainkan peran utama dalam menciptakan dan memelihara ketiga komponen kapabilitas strategis tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui penyusunan program, perumusan kebijakan dan cara unit SDM mengembangkan pegawainya, merancang dan menetapkan tata hubungan di dalam dan di luar organisasi.


2. Memperluas Batas-Batas Pengelolaan (Expand its Boundaries)

Pada umumnya, pengelola SDM fokus pada kegiatan-kegiatan rekrutmen, promosi, dan training. Mereka lebih banyak memikirkan hal-hal tersebut diatas dalam konteks internal organisasi. Pengelola SDM berpikir bahwa fungsi pengelolaan SDM merupakan fungsi bisnis internal. Sampai saat ini masih jarang perusahaan yang memikirkan bagaimana menggunakan program, praktek dan kebijakan pengelolaan SDM untuk keperluan pelanggan.

Dengan memperluas batas-batas pengelolaan SDM kepada pemasok, distributor, dan pelanggan, pengelolaan SDM berpeluang untuk memiliki pengaruh nyata yaitu memberikan value yang lebih baik kepada pelanggan, dengan merumuskan dan mengimplementasikan strategi yang jarang atau bahkan tidak digunakan oleh perusahaan lain karena sulit ditiru.

Pengelola SDM dapat meningkatkan keunggulan bersaing dan meningkatkan kinerja organisasi dengan memampukan pelanggan eksternal (individu atau organisasi yang membeli barang atau jasa) untuk secara langsung memberikan kontribusi kepada aktivitas dan kinerja organisasi. Sasaran ini dapat diwujudkan dengan beberapa cara antara lain:

  • Mengarahkan perilaku pelanggan, sebagai contoh, untuk memenuhi harapan agar pelanggan berperilaku membuang sendiri sampah makanannya, restoran cepat saji memberikan peraturan yang jelas bagi pelanggan dan menyediakan sarana yang memudahkan pelanggan dapat melakukan apa yang diinginkannya.
  • Memfasilitasi pelanggan dalam menciptakan dan mendistribusikan barang dan jasa. Sebagai contoh, pelanggan yang membeli komputer melalui internet, komputer yang diterima pelanggan belum dapat langsung digunakan, dan masih perlu perakitan. Untuk itu, perusahaan komputer melengkapinya dengan manual, video atau bantuan secara online untuk memampukan pelanggan merakit komputernya.
  • Menggunakan pelanggan sebagai auditor. Sebagai contoh, perusahaan yang bergerak dalam bidang pelayanan menggunakan mekanisme umpan balik (feedback) dengan menyediakan kotak saran dan sejenisnya, yang memungkinkan pelanggan memberikan masukan, kritik dan saran yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan pelayanan.
  • Menggunakan pelanggan seolah-olah sebagai manajer SDM. Sebagai contoh, Hotel Ritz-Carlton menerapkan kebijakan memberdayakan pegawai dengan memberikan kewenangan kepada setiap pegawainya untuk menyelesaikan permasalahan pelanggan dan mencegah terjadinya permasalahan yang sama. Sehingga pelanggan dapat dipenuhi setiap kebutuhannya dengan cepat dan memuaskan.
  • Untuk itu semua, pengelola SDM dapat ikut berkontribusi misalnya dengan menyelenggarakan pelatihan untuk memampukan SDM yang terkait, sehingga program-program tersebut di atas dapat berjalan dengan baik.


3. Mengelola Peran-Peran Baru (Manage New Roles)

Peran meliputi tanggung jawab, hubungan dan area untuk berkontribusi. Peran juga merupakan sekumpulan harapan. Dalam masalah ini, peran yang dimaksud adalah analogi dari pernyataan visi organisasi, yang menunjukkan tujuan organaisasi secara umum yang ingin dicapai.

Mengapa peran perlu dikelola? Dengan mengelola peran, pengelola SDM dapat terbebas dari belenggu fungsi masa lalu dan memungkinkan untuk memberikan nilai tambah terhadap keberhasilan organisasi. Pandangan tentang pengelolaan SDM telah mengalami perubahan dari fungsi dan proses menjadi sejauh mana pencapaian sasaran dan seberapa besar dampaknya terhadap penciptaan value bagi organisasi dan pelanggan. Misal, unit SDM mengelola peran sebagai "knowledge facilitator". Peran unit SDM tidak terbatas hanya pada pengelolaan pelatihan dan pengembangan, karena knowledge facilitator merupakan peran organisasi yang fokus pada "learning" untuk membantu seluruh organisasi memperoleh pengetahuan baru dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk secara berkelanjutan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Knowledge fasilitator akan mendorong profesional atau para pengelola SDM untuk menggunakan berbagai metode yang salah satu diantaranya adalah pelatihan dan pengembangan untuk memastikan kemampuan pembelajaran. Sebagai contoh, sebagai knowledge fasilitator, pengelola SDM dapat secara aktif menjalankan sebagian peran pengembangan dan pengelolaan sistem teknologi informasi yang berlaku di organisasi, bahkan dapat juga dalam pengembangan aplikasi untuk mengakumulasikan, menyimpan dan menyebarluaskan apa yang dipelajari oleh pegawai secara individu. (SG.-)

Tags : Training, Leadership, Management

Artikel Selanjutnya : Karakteristik Kepemimpinan

Artikel Sebelumnya


Komentar




Orang yang sukses dalam hidup adalah orang yang melihat tujuannya dengan jelas dan menjurus kearahnya tanpa menyimpang.

EVENTS


ARTICLE'S TAGS

Inovasi Partnership Training SDM Assessment Leadership Management